Tuesday, May 20, 2008

Jangan bersumpah palsu! (Mat 5:33-37)

33 Kamu telah mendengar pula yg difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 34Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah. 35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kakiNYAataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar. 36 Janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yg lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Pertanyaan:
1. Apakah orang Kristen boleh bersumpah?
2. Bagaimana dengan keharusan kita untuk bersumpah menurut hukum? Misalnya dalam pengadilan.
3. Mengapa kita sering bersumpah?

Para rabi Yahudi selalu menekankan pentingnya kebenaran. Menurut mereka dunia berdiri di atas tiga hal, yaitu: keadilan, kebenaran dan kedamaian. Untuk menekankan kebenaran mereka biasanya mengukuhkan perkataan mereka dengan sumpah. Pada zaman Tuhan Yesus ada 2 macam sumpah.
Yang pertama adalah sumpah yg tidak mengikat sehingga mereka bisa ingkar di kemudian hari. Dikatakan tidak mengikat karena sumpah ini tidak melibatkan Tuhan. Karena itu mereka bersumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem, demi bait Suci dan hal-hal lain yg mereka anggap dapat menanggung atau menjamin kebenaran perkataan mereka.
Sumpah yg kedua adalah sumpah yg mengikat dengan melibatkan nama Tuhan. Jadi mereka bersumpah demi Allah yg hidup, demi Tuhan, dsb. Padahal tidak ada kehidupan di dalam dunia ini yg tidak melibatkan Tuhan. Karena kita percaya Tuhan selalu menyertai kita di dalam setiap aspek kehidupan kita. Karena itu di dalam ayat 34-36, Tuhan menasehati mereka untuk jangan suka berdusta dengan bersumpah demi segala macam. Menurut Tuhan, dengan bersumpah demi apapun semuanya sama, karena Allah mendengar segala apa yg mereka katakan.

Menurut Tuhan Yesus, jadi orang kita harus tegas, jangan plin-plan (ay.37). Kalau ya katakan ya kalau tidak katakan tidak . Selain daripada itu kata-kata kita biasanya selalu timbul dari keragu-raguan, ketidak tulusan dan kejahatan, yaitu berdusta. Jadi orang jangan suka ingkar janji. Kita harus belajar untuk menepati janji dan kata-kata yg kita ucapkan sehingga tanpa bersumpahpun orang-orang akan percaya kepada kita.

Allah sendiri bersumpah (Kej 22:16,17; bdk. Ibr 6:13-18). Kalau begitu mengapa Allah bersumpah? Allah bersumpah bukan untuk memperkuat ucapanNYA supaya dipercaya karena Ia bukannya manusia yg suka berdusta (Bil 23:19). Tetapi Allah bersumpah untuk meneguhkan iman percaya kita yg suka tidak percaya. Yesus sendiri memberi jawab di bawah sumpah untuk mengakui pernyataanNYA bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah (Mat 26:63).

Kita sering bersumpah karena kita berpikir bahwa kata-kata kita yg sederhana sering tidak dipercaya orang. Karena itu kita mencoba untuk meyakinkan kepercayaan orang dengan bersumpah.

Kesimpulan:
Apakah orang Kristen boleh bersumpah?
Kalau kita dihadapkan oleh keadaan seperti pengadilan negara kita wajib tunduk karena memang kita harus taat terhadap aturan pemerintah. Yesus sendiri tidak menolak ketika diriNYA diadili dibawah sumpah (Mat 26:33). Terkadang dalam hal-hal tertentu kita perlu untuk mengambil sumpah seseorang di dalam dunia yg belum menerima Kristus. Lewat perikop ini kita mengerti bahwa kita sebagai orang Kristen jangan suka bersumpah karena itu tidak perlu. Karenanya jadilah orang yg tulus hati, jangan suka berdusta. Jadi orang harus belajar tegas, jangan plin-plan sehingga kita dapat dipercaya orang.

Sunday, May 11, 2008

Tuntutan Allah tentang kekudusan & kesetiaan (Mat 5:27-32)

27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yg memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia dalam hatinya. Di dalam perikop ini, mula-mula Tuhan menyinggung firman tentang jangan berzinah. Kemudian Yesus memberikan komentar tentang mengapa orang bisa berzinah. Orang yg hatinya kotor selalu dapat melihat dan menemukan segala sesuatu untuk membangkitkan keinginan yg negatif.

29 Maka jika matamu yg kanan menyesatkan engkau, cungkilah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30 Dan jika tanganmu yg kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Di dalam ayat ini Tuhan menjelaskan mengapa orang bisa memiliki hati yg kotor. Semua ini dilukiskan dalam bahasa kiasan. Menurut Yesus segala sesuatu yg menjadi penyebab atau pembujuk dosa harus dibuang. Segala sesuatu yg menyebabkan kita tergoda oleh dosa harus secara tuntas kita singkirkan dari hidup kita. Beberapa hal yg menyebabkan hati kita kotor adalah seperti kebiasaan yg buruk seperti membaca dan menonton buku/film porno dan pergaulan yg salah merusak kebiasaan yg baik (1 Kor 15:33)

Ada 3 saran untuk membebaskan diri kita dari hal-hal yg salah ini:
1. Harus dengan tegas mengatakan tidak terhadap diri sendiri. Hendaklah kita mampu menguasai diri kita sendiri.
2. Dengan aktif mengisi hidup kita dengan pelayanan Kristen sehingga kita tidak mempunyai waktu luang untuk memikirkan hal-hal yang keliru.
3. Mengisi pikiran dengan hal-hal yg baik dan positif dengan firman Tuhan, buku-buku bacaan yg baik dan hiburan yg sehat.

Ayat 31-32 merupakan rangkuman dari Mat 19:1-12
Sebelum memulai membahas perikop ini, ada pertanyaan:
Bolehkan orang Kristen bercerai ?
Berbagai kasus perceraian:
1. Kalau salah satu pasangannya tiba-tiba sakit keras, kemudian menjadi cacat seumur hidup/gila.
2. Kalau partnernya mengancam jiwa pasangan yg lain bahkan anak-anak mereka.
3. Kalau partnernya mempunyai kelainan (suka menyiksa, menganiaya) partnernya.
4. Kalau pasangannya suka berzinah.
5. Kalau sebelum menjadi Kristen menikah dengan seorang duda/janda cerai. Bagaimana status mereka sekarang? Haruskah kembali kepada pasangan mula2?

Di dalam Mat 19:3, orang Farisi mengajukan pertanyaan; bolehkan orang bercerai dengan alasan apapun juga? Dalam ayat berikutnya Tuhan tidak menjawab dengan boleh atau tidak, tetapi Ia balik bertanya tentang apakah arti perkawinan menurut Firman Tuhan? Perkawinan merupakan suatu ikatan antara laki-laki dengan perempuan untuk menjadi satu bukan dua atau setengah. Perkawinan ini merupakan suatu ikatan yg dipersatukan oleh Allah.

Orang-orang Farisi kemudian bertanya pula, kalau begitu mengapa Musa memerintahkan membuat surat cerai jika orang menceraikan istrinya? Menurut Yesus bukan perintah tetapi izin diberikan olah Musa karena ketegaran hati mereka. Kata berzinah atau moikheuein dalam bahasa aslinya adalah perbuatan seorang laki-laki yg menyakiti partnernya dengan memecahkan perkawinan. Jadi perintah jangan berzinah sebenarnya dimaksudkan untuk melindungi hak wanita untuk tidak boleh diperlakukan seenaknya. Karena pada waktu itu perempuan cuma dianggap sebagai hak milik dari ayahnya sebelum kawin dan kemudian menjadi milik suaminya setelah ia menikah. Karena itulah sebenarnya Musa bermaksud untuk melindungi hak dari kaum wanita dengan memberikan izin bukan perintah supaya tidak mudah bagi seorang laki-laki untuk memperlakukan wanita seenaknya. Prosedur perceraian dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi rumit. Di dalam upacara perkawinan, si istri menerima perjanjian perkawinan dimana di cantumkan kalau ia diceraikan, ia akan menerima sejumlah uang sebagai harga tebusan. Tetapi sayangnya izin yg diberikan oleh Musa dalam Ul 24:1-4 menimbulkan polemik yg rumit. Perkataan tidak senonoh dalam Ul 24:1 mengundang 2 tafsiran:
1. Berarti zinah
2. Segala hal yg dilakukan oleh perempuan itu yg dipandang tidak lagi menyenangi hati suaminya.
Oleh karena pengertian yg simpang siur inilah maka terjadi penyalah-gunaan izin yg diberikan oleh Musa.

Kalau kita melihat Mat 19:9 ada perbedaan antara Matius dengan injil paralelnya di Luk 16:18 dan Mark 10:1-12 mengenai pengecualiaan dalam perceraian. Markus dan Lukas tidak mencantumkan pengecualiaan ini karena menganggap hal ini sudahlah umum sehingga tidak perlu untuk menyebutkannya bagi sidang pembaca. Tetapi Matius yg menulis injilnya untuk orang Yahudi tetap merasa perlu untuk menyebutkan hal ini. Menurut Yesus, perceraian diijinkan dalam kasus zinah. Di bawah hukum Musa, perbuatan zinah dapat dijatuhi hukuman mati (Yoh 8:3). Jadi karena dianggap si pelaku zina sudah mati, partnernya menganggap dirinya bebas untuk menikah kembali.

Mengenai penafsiran dari kata zina, banyak yg berpendapat oleh karena kata ini berasal dari kata pornea yg berarti persundalan yg dilakukan oleh orang-orang yg belum kawin. Maka zina berarti perbuatan asusila yg dilakukan oleh orang-orang yg belum kawin. Tetapi di dalam pemakainnya dalam alkitab, ternyata berarti yg sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh karena kata porneia berasal dari kata porne, yaitu pelacur yg melakukan perbuatan asusila tanpa memandang status kawin atau tidak. Kata ini dipakai dalam perjanjian lama bahasa Yunani (Septuaginta) untuk menyatakan perbuatan yg dilakukan oleh Gomer istri Hosea sebagai pelambang dari ketidak setiaan Israel pengantin Yahweh.

Ada beberapa hal yg dapat kita simpulkan dari perkataan Yesus mengenai perceraian:
1. Jangan sembarangan bercerai karena perilaku seperti ini menjerumuskan kedua belah pihak bahkan pihak ketiga ke dalam perzinahan. Yesus menolak keabsahan perceraian yg didasarkan oleh alasan palsu dan seenaknya seperti tafsiran dari para rabi terhadap Ul 24:1-4
2. Ikrar perkawinan diizinkan untuk dibatalkan apabila terhadap pelanggaran dosa seksual yg serius. Izin yg diberikan oleh Yesus adalah suatu tindakan yg terpaksa oleh karena dosa manusia. Perbuatan zinah yg dimaksud misalnya perbuatan zinah, homoseks atau kebiadaban seksual. Tetapi izin yg diberikan ini haruslah dibaca dalam konteks langsung yaitu keutuhan perkawinan ditekankan dan didukung oleh Yesus sebagai yg dimaksud oleh Allah sendiri. Konteks perdamaian dan kerukunan kembali haruslah diupayakan sesuai dengan arti perkawinan itu sendiri.

Catatan Tambahan:
*Mengenai kasus orang-orang yg menikah dengan duda/janda cerai haruslah dipertimbangkan sesuai dengan nasihat Paulus dalam 1 Kor 7:17-24

*Poligami bertentangan dengan firman Tuhan:
1. Karena menurut kej 2:24 seorang suami dengan seorang istri menjadi satu bukan tiga atau empat. Tuhan Yesus juga mengulang prinsip yg sama dalam Mat 19:5-6
2. Tuhan juga mengingatkan bahwa dengan mengambil banyak istri adalah berbahaya karena hatinya bisa menyimpang (Ul 17:17); bisa menyeleweng dari iman yg murni seperti Salomo ( 1 Raja 11:4); mengundang banyak konflik dalam keluarga (Kej 16:1-16; 21:8-21; 1 Sam 1:1-8 dan contoh keluarga Daud sendiri.
3. Meskipun kelihatannya Tuhan membiarkan praktek poligami selama beberapa waktu pada orang Israel, mereka yg telah mendengar Firman, tapi mengabaikannya harus menanggung segala konsekuensi sebagai akibat dari praktek poligami seperti yg disebutkan di atas. Praktek Poligami pada bangsa Israel secara perlahan-lahan menghilang semasa mereka dibuang di Babel. Dalam Perjanjian Baru perintah Allah mengenai monogami diperjelas bahwa seorang laki-laki dan perempuan menjadi satu daging (1 Tim 3:2,12) yg merupakan pengulangan dari Kej 2:24

Friday, May 2, 2008

Hidup Berdamai satu sama lain (Mat 5:21-26)

21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.

Pertanyaan:
1. Apakah orang Kristen dilarang membunuh?
2. Apakah orang Kristen boleh menjadi tentara?
3. Bagaimana dengan bagian dari Alkitab yg merupakan perintah dari Tuhan kepada Israel untuk membunuh musuh-musuh mereka? (Lihat 1 Sam 15:1-23; Ulangan 25:17-18), Mengapakah Allah memerintahkan untuk menumpas habis-habisan segala musuh Israel berikut ternak mereka?

Mari pertama-tama kita membahas pertanyaan yg ketiga. Sebenarnya menurut Yeh 18:32; 33:11), Allah tidak mau melihat kebinasaan orang fasik. Allah menginginkan mereka bertobat dan hidup. Tetapi Alkitab juga mengatakan bahwa ada satu titik dimana orang-orang fasik itu sudah begitu jahatnya, sudah begitu bebalnya sehingga mereka memang tidak mungkin lagi bertobat, karena hati mereka sudah membatu sehingga penghakiman atas mereka tidak dapat dihindarkan lagi (Yer 11:11; 14:11-12; 15:1-2). Kita tidak tahu mengapa bayi-bayi juga dibunuh. Tetapi kita tahu bahwa Allah kita adalah adil dan bijaksana (Ul 32:4). Kita juga dapat mengingat bahwa kematian bayi-bayi tersebut secara fisik adalah lebih baik daripada kematian kekal.

Orang-orang Amalek yg ditumpas oleh Israel adalah orang-orang jahat yg melakukan berbagai aksi kejahatan dan terorisme. Mereka selalu mencari mangsa orang-orang yg lemah dan tidak berdaya (Ul 25:17-18; Ul 2:34).
Ada 2 alasan mengapa Allah memerintahkan Israel untuk menumpas orang-orang Amalek:
1. Israel adalah alat Allah untuk menghakimi orang-orang Amalek.
2. Jika musuh-musuh Israel hidup, mereka akan menyelewengkan kepercayaan iman Israel kepada dewa-dewa mereka dari Yahweh (Ulangan 20:18)

Kalau kita membaca keterangan di atas, kita akan bertanya-tanya. Kalau begitu Firman Allah bertentangan satu sama lain. Karena Keluaran 20:13 memerintahkan kita untuk jangan membunuh. Tetapi Firman Allah dalam 1 Sam 15:1-23 mengatakan "bunuhlah". Kalau kita mengerti bahasa aslinya ternyata tidak. Karena kata "membunuh" dalam Kel 20:13 berasal dari kata rasah yaitu pembunuhan yg melawan hukum. Untuk pembunuhan yg dilakukan atas dasar Yuridis atau di dalam perang, Perjanjian Lama memakai kata hemit, harag atau naka.
Keluaran 20:13 di dalam pengertian yg benar berarti larangan dari Allah atas kita untuk tidak melakukan pembunuhan yg melawan hukum, Selain itu perintah ini adalah juga merupakan suatu upaya untuk mencegah hak membalas dendam yg sering dilakukan orang-orang Yahudi pada zaman itu bahkan sampai sekarang (Bilangan 19:18)

22 Tetapi Aku berkata: Setiap orang yg marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yg berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yg berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yg menyala-nyala.
Ditulis dalam bentuk kiasan yg merupakan sindiran dari Tuhan Yesus terhadap orang-orang Yahudi.
Pertanyaan: Apakah orang Kristen boleh marah?
Marah adalah wujud dari emosi kita supaya lawan bicara kita menangkap perasaan yg terkandung dalam hati kita karena kata-kata halus dan nasihat kita rasakan tidak membawa suatu pengertian kepada lawan bicara kita. Semestinya kita berharap, lewat kemarahan ini kedua belah pihak dapat memperoleh pengertian, tetapi yg terjadi biasanya adalah sebaliknya.

Di dalam bahasa Yunani ada 2 kata marah. Yang pertama adalah thumos, yaitu kemarahan yg timbul dengan cepat kemudian meledak, kemudian surut dan hilang begitu saja sepertinya tidak terjadi apa-apa. Yang kedua adalah orge, yaitu kemarahan yg mengakar, yg membuahkan sakit hati, dendam dan kebencian. Kata marah yg terdapat dalam Mat 5:22 berasal dari kata orge yaitu kemarahan yg terus berlangsung dan berkembang menjadi kebencian terhadap sesama. Pada puncaknya kemarahan ini bisa berbentuk tindakan kekerasan atau hal-hal lain yg merugikan sebagai upaya balas dendam atau sakit hati. Kata kafir dalam ayat 22 ini berasal dari kata rhaka yg berarti bodoh, kepala kosong,tidak berotak. Ini merupakan suatu penghinaan kepada orang lain dengan berpikir dirinya lebih pintar dan lebih hebat daripada orang lain sehingga dapat disebut sebagai dosa kesombongan. Yak 4:6 mengatakan; Allah menentang orang yg congkak tetapi mengasihani orang yg rendah hati. Kata Tuhan Yesus, orang yg suka menghina orang lain seperti ini seharusnya dihadapkan kepada Mahkamah Agama. Bagi orang Yahudi pada waktu itu, mereka mempunyai 3 macam pengadilan: a) Pengadilan lokal b) Mahkamah agama sebagai pengadilan nasional c)Pengadilan ilahi.

Kata jahil berasal dari kata moros, yg merupakan pengyunanian dari kata ibrani moreh yg berarti orang bebal, bejat, penghujat, murtad (Yer 5:23). Moros adalah suatu penghinaan terhadap watak dan hati seseorang. Dengan mengumpat dan menghina saudaranya seperti ini, mereka biasanya mengumpat supaya dia masuk neraka. Kata neraka di sini berasal dari kata gehinnom yg kemudian menjadi gehenna. Hinnom adalah lembah di sebelah selatan Yerusalem. Pada waktu dahulu lembah ini merupakan tempat persembahan anak-anak kecil sebagai korban bagi dewa Molokh (2 Raj 16:3). Sejak abad kedua, orang Yahudi percaya bahwa penghakiman akan berlangsung di lembah itu dan bahwa orang2 fasik akan menerima hukuman dalam lautan api (Yer 7:32; 19:6). Pengajaran moral yg kita terima dari ayat ini jangan sekali-kali memiliki kemarahan yg panjang sehingga membangkitakn kebencian di hati kita untuk melakukan tindakan yg negatif untuk menghancurkan dan merugikan orang lain. Kata Yesus, kemarahan yg seperti ini tidak ada bedanya dengan membunuh karena orang yg memiliki kemarahan seperti ini akan berusaha untuk menghancurkan kehidupan orang lain yg dibencinya. Orang yg seperti ini akan dihadapkan kepada pengadilan Allah.

Kedua ilustrasi dari ayat 23-24 dan 25-26 adalah berbeda mengenai objek yg menjadi ganjalan diantara kita. Ayat 23-24 melukiskan ganjalan yg ada diantara kita dengan saudara-saudara kita. Sedangkan ayat 25-26 tentang ganjalan yg ada antara kita dengan musuh kita. Tetapi makna ayat2 ini adalah sama. Maksudnya kita tidak boleh membiarkan kerenggangan atau ganjalan yg ada berlangsung lama, apabila membiarkannya menjadi kebencian. Kita tidak boleh menunda-nunda pemulihan hubungan yg terputus. Paulus mengatakan apabila kita menjadi marah, janganlah berbuat dosa. Janganlah marah sampai matahari terbenam, kalau tidak kita akan memberikan kesempatan kepada iblis untuk menaburkan kebencian dan akar kepahitan (Ef 6:26-27)

Firman Allah dalam perikop ini mengajarkan kita untuk tidak marah tanpa alasan atau marah yg berkepanjangan karena si pemarah menimbulkan pertengkaran dan orang yg lekas gusar banyak pelanggarannya (Amsal 29:22; Yak 1:19-20). Karena itu hendaklah kita dapat lebih menguasai diri kita sedemikian rupa supaya kita dapat berdoa kepada Tuhan. Kalau hati kita dipenuhi oleh kasih kristus; damai sejahtera dan kuasa Allah akan memampukan kita untuk menguasai diri sehingga kita dapat melayani orang-orang yg kita tidak sukai sekalipun. Hidup berdamai jauh lebih enak dibandingakn dengan hidup bermusuhan. Selama kita bermusuhan, tidak ada ketenangan dan damai sejahtera.

Renungan:
Siapakah yg menjadi musuh kita selama ini? Maukah kita berbaikan satu sama lain?

Sunday, April 27, 2008

Yesus & Hukum Taurat (Mat 5:17-20)

17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Di dalam perikop ini kita membaca bahwa Yesus dituduh meniadakan hukum taurat. Apakah yg dimaksudkan dengan hukum taurat? Mula-mula yg dimaksudkan dengan hukum taurat adalah hukum yg terdapat dalam 5 kitab pertama yg terdapat dalam perjanjian lama (PL), yaitu:Kitab kejadian, keluaran, Imamat, bilangan dan ulangan. Kemudian dimasukkan kitab-kitab lain seperti kitab mazmur (Yoh 10:34). Bahkan seluruh kitab-kitab dalam PL sering dianggap sebagai bagian dari Taurat. Mula-mula taurat hanya berisi Firman, pengajaran dan janji-janji Allah dimana semuanya ini disampaikan oleh Allah kepada Musa. Kemudian hal yg sama juga disampaikan secara lisan oleh Musa kepada Israel (Kel 4:12; Ul 1:5; 31:9, dll). Pengajaran ini kemudian diteruskan kepada para imam dan nabi-nabi (Kel 18:16, 20; Mal 2:6).

Salah satu tugas imam sejak Musa ialah menafsirkan dan menyelidiki taurat dengan maksud untuk mendapatkan peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan khusus untuk setiap keadaan dan semua kasus yg mungkin mereka hadapi. Dari sinilah muncul para ahli taurat yg bertugas untuk meneliti dan menafsirkan prinsip-prinsip dasar dari hukum taurat dan kemudian merumuskan berbagai peraturan dan ketentuan yg dianggap sebagai ketentuan hukum taurat. Di samping ahli taurat juga lahir kelompok orang Farisi sebagai orang-orang yg dengan ketat mentaati berbagai ketentuan, peraturan dan tafsiran para rabi terhadap taurat. Hal inilah yg tidak bisa diterima oleh Tuhan Yesus. Yesus tidak menerima penafsiran hukum Taurat menurut pengajaran dan adat istiadat nenek moyang yg telah menyimpang dari maksud Firman Tuhan yg sesungguhnya.

Contoh:
1. Ul 24:1 Mengijinkan perceraian diantara orang Israel, Tetapi hal ini dianggap tidak sah oleh Yesus karena ini bukanlah maksud semula dari Firman Tuhan. Menurut Yesus, Musa mengijinkan perceraian karena kekerasan hati Israel yg tidak mau tunduk terhadap hukum Allah yg ketujuh, yaitu "Jangan berzinah" (Mat 19:8)
2. Tentang Sabat. Bagi para ahli taurat dan orang-orang Farisi; Hari sabat adalah hari dimana orang-orang tidak boleh bekerja. Mereka mendefinisikan apa yg dimaksudkan dengan "bekerja". Kemudian melarang Israel untuk tidak boleh melakukan apapun yg termasuk dalam kategori "bekerja" ini. Tetapi Tuhan Yesus justru mengajarkan bahwa hari sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk sabat (Markus 2:27). Hari sabat diadakan untuk memberi istirahat dan kelegaan bagi manusia.

Lewat 2 contoh di atas kita dapat melihat bahwa ada perbedaan yg menyolok antara Tuhan Yesus dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Bagi para ahli taurat dan orang Farisi yg penting adalah menjalankan berbagai peraturan dan ketentuan dari hukum taurat menurut adat-istiadat dan penafsiran nenek moyang mereka. Tetapi bagi Tuhan Yesus, pertama-tama cara yg benar untuk mengerti hukum taurat adalah dengan memenuhi apa yg menjadi prinsip dasar dan tujuan dari hukum tersebut.

Kedua, ketaatan terhadap hukum taurat dimulai dari hati. Kalau hati kita setuju, selaras dan sesuai dengan hukum taurat maka kita bisa taat dengan sepenuh hati. Kalau tidak kita akan terjebak ke dalam berbagai kebiasaan yg membuta dan tidak membuahkan apa-apa. Jadi di dalam Mat 5:17; Tuhan Yesus ingin mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak meniadakan Firman, ajaran dan janji-janji Tuhan dalam Taurat. Tetapi Ia menggenapi dan merealisir apa-apa yg menjadi isi, arti dan tujuan dari hukum Taurat yg selama itu telah diselewengkan menjadi berbagai peraturan menurut tradisi dan tafsiran nenek moyang mereka.
Renungan:
Sudahkah kita mengerti tentang arti, prinsip dasar dan tujuan dari Firman yg kita baca sehari-hari atau kita hanya mengertinya sebagai kebiasaan dan peraturan-peraturan yg membebani kehidupan kita?

18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
Iota adalah huruf yg terkecil dalam abjad Yunani, merupakan terjemahan dari yod, huruf terkecil dalam bahasa Ibrani. Sedangkan titik adalah tanda yg terkecil dalam abjad Yunani. Arti dari ayat ini ialah seluruh Firman Tuhan bahkan yg terkecil sekalipun tidak akan dibatalkan atau dihapuskan.

19 Karena itu siapa yg meniadakan salah satu perintah Hukum Taurat sekalipun yg paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yg paling rendah di dalam kerajaan sorga; tetapi siapa yg melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yg tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
Ayat ini adalah suatu permainan bunyi yg berbentuk paralelisme supaya kedengarannya enak waktu dibaca. Tempat yg rendah atau tinggi bukan berarti secara hurufiah tetapi kiasan. Tempat yg rendah berarti tidak dapat tempat sekalipun. Sedangkan tempat yg tinggi berarti mendapat tempat di sorga yg mulia.

20. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Tuhan Yesus mengajarkan murid-muridnya untuk mempunyai standar hidup yg lebih dibandingkan dengan orang Farisi maupun ahli Taurat. Yaitu dengan mengejar kesalehan, kebenaran dan ketekunan yg dimulai dari dalam hati. Mengapa Yesus mengatakan demikian ? Karena motif dan tujuan hidup orang Farisi dan ahli Taurat adalah untuk memenuhi ketentuan dan tuntutan hukum Taurat. Kalau mereka memiliki motivasi dan tujuan hidup seperti itu bagaimana dengan standar dari kehidupan orang Kristen? Apakah yg menjadi motivasi dan tujuan hidup orang Kristen. Kita yg mengaku percaya kepada Kristus yg menjadi penggenapan hukum taurat, apakah Yesus yg menjadi motivasi dan tujuan kehidupan kita selama ini? Jadi orang Kristen harus benar-benar, harus menunjukkan dirinya selaku orang percaya. Hendaklah kita selalu mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (Flp 2:12)

Saturday, April 19, 2008

Menjadi Garam & Terang Dunia (Mat 5:13-16)

Menjadi Garam & Terang Dunia (Mat 5:13-16)

Setelah memberikan nasihat, tegoran dan pengajaran di dalam 8 ucapan berbahagia maka Yesus memerintahkan murid-muridNYA untuk mempraktekan apa-apa yg telah diajarkanNYA. Yesus mengumpamakan murid-muridNYA seperti garam dan terang dunia. Mengapa? Karena Yesus ingin mengingatkan murid-muridNYA bahwa ada perbedaan yg tajam antara murid-muridNYA sebagai orang percaya dan "dunia". Yang dimaksudkan dengan "dunia" oleh Yesus adalah orang-orang yg hidup di luar Kristus, yaitu orang-orang yg tidak percaya Kristus. Kehidupan orang-orang yg diluar Kristus diumpamakan sebagai kegelapan, kesepian, kehilangan arah dan hambar. Mereka melakukan segala macam cara dengan berbuat kejahatan, korupsi, kekacauan, penipuan, dll. Karena itulah Yesus mengingatkan murid-muridNYA tentang keberadaan mereka. Murid Yesus adalah berbeda dengan dunia.

Tetapi mengapa pada zaman sekarang murid Yesus dengan dunia banyak yg tidak ada bedanya? Orang Kristen banyak yg tidak berbeda dengan dunia karena takut kehilangan harta, kedudukan, takut kehilangan teman-teman yg mereka anggap baik dan terutama adalah merasa berat meninggalkan berbagai kebiasaan buruk atau kesenangan-kesenangan yg negatif seperti menipu, berjudi, dsb.

Pertama-tama Yesus menyebut murid-muridNYA sebagai garam dunia. Mengapa garam bukan gula? Karena Injil bukanlah untuk pemanis, bukan gula-gula untuk menipu dengan hal-hal yg kelihatan indah, kelihatan bagus. Tetapi injil adalah garam yg digunakan sebagai perasa untuk makanan yg hambar. Digunakan sebagai obat, sebagai cara untuk mencegah kebusukan. Jadi di sini Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa sebagai orang kristen kita harus mempunyai suatu peranan di dalam masyarakat. Orang Kristen seharusnya memberikan sukacita, membawa pembaharuan, penyucian dan kesembuhan bagi dunia. Kita seharusnya membawa pengharapan kepada dunia yg sedang putus asa. Membawa pengampunan dan perdamaian terhadap mereka yg bersalah terhadap kita. Menunjukkan kasih Kristus untuk melawan kebencian dan permusuhan.

Orang Kristen seharusnya memberikan sukacita kepada mereka yg sengsara. Memberikan kesegaran rohani kepada mereka yg lesu. Jadi kita haruslah aktif mengambil peranan dalam kehidupan kita di dunia ini. Orang Kristen bukan hanya tahu tentang kebenaran, bukan hanya berbicara tentang kebenaran tetapi juga melakukan kebenaran. Kalau kita tidak berperan sebagai garam yg mengasinkan, menyembuhkan dan mencegah kebusukan; kalau orang Kristen kerjanya hanya berbicara dan tidak berbuat apa-apa maka ia tidak ada bedanya dengan dunia. Orang-orang yg mengaku Kristen tetapi diam saja akan dicemoohkan bahkan dihina, dicaci sebagai orang munafik oleh semua orang yg mengenalnya. Sama seperti garam pada zaman Yesus dahulu. Garam yg diambil dari laut Mati ada waktu kadaluarsanya. Setelah lewat beberapa waktu garam itu tidak asin lagi sehingga dibuang orang ke jalan dan diinjak-injak oleh setiap orang yg melewatinya. Orang Kristen yg tidak berperan dan tidak mau berperan dalam dunia akan menjadi hambar hidupnya dan menjadi cemoohan dan hinaan oleh setiap orang.

Kedua, Yesus mengumpamakan murid-muridNYA seperti terang dunia. Seperti terang, Yesus mengharapkan murid-muridNYA dapat membimbing dunia supaya mereka juga mengenal keselamatan dan mendapatkannya. Murid Yesus juga harus dapat mereflesikan terang Kristus yg ada di dalam diriNYA. Dan terang itu akan terlihat dalam setiap perbuatan baik yg kita lakukan sehingga orang-orang yg melihatnya memuliakan Allah. Perbuatan baik adalah perbuatan kasih dan iman yg mengungkapkan kesetiaan kita kepada Tuhan dan kasih terhadap sesama. Dengan menunjukkan keprihatinan, kepedulian dan tindakan kasih yg nyata orang-orang Kristen dapat memuliakan Allah lewat semua ini. Jadi hendaklah kita menyatakan iman kita dalam perbutan nyata yg dapat dilihat dan didengar karena iman tanpa perbuatan adalaah mati (Yak 2:17).

Sebagai kesimpulan dari perikop ini, sebagai murid-murid Tuhan hendaklah kita harus berani menunjukkan kekristenan kita di dalam dunia. Kita harus menyatakan iman dan kasih kita di dalam perbuatan nyata. Dimulai dari keluarga kita, orang-orang yg terdekat dengan kita bahkan orang-orang yg tidak kita kenal sekalipun. Sehingga dapatlah terwujud ucapan Yesus yg mengatakan bahwa kita adalah garam dan terang dunia.

Peran apakah yg seharusnya kita ambil di dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah peran ini berkaitan dengan karunia dan talenta yg Tuhan berikan kepada kita?

Saturday, April 12, 2008

"Berbahagialah orang yg dianiaya oleh sebab kebenaran....."Mat 5:10-12

"Berbahagialah orang yg dianiaya oleh sebab kebenaran karena mereka yg empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yg jahat. Bersuka citalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi sebelum kamu" (Mat 5:10-12)

Tiga ayat yg baru saja kita baca di atas merupakan satu rangkaian kalimat yg tidak boleh
dipisahkan, karena mereka mengandung satu pengertian yaitu tentang kesiap-sediaan murid Yesus untuk menghadapi aniaya selain membawa damai. Di sini Tuhan ingin memberikan suatu nasihat, suatu petunjuk tentang kepastian akan apa yg terjadi bila seseorang memilih untuk mengikut Dia! Ada banyak hal yg harus kita hadapi sebagai tantangan terhadap iman kristen kita.

Berikut ada beberapa contoh yg dapat kita diskusikan bersama-sama:
1. Seorang tukang batu kristen ditawari pekerjaan untuk membangun rumah berhala, di tengah-tengah kesulitan untuk mencari pekerjaan, haruskah ia menolak tawaran pekerjaan ini?
2. Bolehkah kita menerima tawaran bekerja di kasino, night-club, panti pijat, dsb?

Kalau kita melihat ayat kesepuluh dalam Mat 5 ini, kita akan dapat melihat arti yg paralel dengan ayat 3 dan 6. "Berbahagialah orang yg miskin di hadapan Allah karena merekalah yg memiliki Kerajaan Allah" (ayat 3). "Berbahagialah orang yg lapar dan haus akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan" (ayat 6). "Berbahagialah orang yg dianiaya oleh sebab kebenaran dan beriman kepada Kristus karena merekalah yg memiliki Kerajaan Allah" (ayat 10).

Kita telah membahas tentang arti orang yg miskin di hadapan Allah, yaitu orang yg secara sadar di hadapan Allah dirinya bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, sehingga ia selalu berharap kepada Allah, bergantung kepada Tuhan, hatinya berpaut kepada Allah sehingga ialah yg mewarisi Kerajaan Allah. Kalau berbicara tentang kebenaran sering kita definisikan kebenaran ini sebagai apa yg tahu dan yg kita pikir benar, padahal apa yg kita pikir benar belum tentu benar. Apa yg kita tahu benar padahal seringkali tidak benar, sehingga ketika kita mengambil suatu keputusan seringkali kita melakukan kesalahan.

Yang dimaksud dengan kebenaran selalu dikaitkan dengan kebenaran Tuhan, karena Tuhan tidak pernah salah. Kalau kita mempunyai suatu hubungan yg harmonis dengan Tuhan, hidup dekat dengan Tuhan sumber kebenaran, otomatis kita akan sadar dan taat untuk melakukan apa yg diinginkan oleh Tuhan menurut FirmanNya. Hasil yg diperoleh melalui ini adalah kebenaran, Jadi apakah selama ini kita sudah mengerti tentang kebenaran? Apakah kita mau menjadi orang benar? Apakah kita mau menjadi orang yg memegang prinsip kebenaran?

Pada zaman sekarang kita hampir tidak bisa membedakan yg mana Kristen yg mana bukan. Sepertinya sama saja, karena banyak orang Kristen tetapi tidak punya prinsip kebenaran, hidupnya selalu penuh dengan kompromi. Ketika kita menghadapi tantangan hidup kita mudah mundur. Gereja juga demikian, belum lagi mengalami penganiayaan dan hinaan, tetapi lebih suka menghina diri sendiri. Pada tahun 1999, ketika terjadi beberapa serangan dan isu-isu yg berupa ancaman terhadap gereja-gereja di Jakarta, banyak gereja yg ketakutan. Mereka menurunkan papan nama gereja, mematikan lampu gereja bahkan ada yg menurunkan salib yg telah tergantung dengan gagahnya selama beberapa puluh tahun di gereja tersebut. Apa komentar anda?

Berikut ada 2 komentar yg paling banyak dilontarkan oleh sekelompok hamba Tuhan:
1. Lebih baik gereja diserbu/dihancurkan daripada dihina
2. Ah, sayang kalau gereja sampai hancur. Kita telah berpayah-payah membangunnya dengan memakai biaya yg mahal. Lagipula kalau tidak mengambil tindakan pencegahan (seperti di atas), jemaat bisa teraniaya? Andaikata ada isu serangan/ancaman terhadap gereja-gereja di kota anda, apakah anda akan tetap beribadah seperti biasa?

"Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi sebelum kamu" (ay. 13)

Apa maksudnya di sini bersuka cita dan bergembiralah ketika mengalami penganiayaan? Apakah kita menari-nari, tertawa, tepuk tangan? Gila kali ya? Ini bukan yg dimaksud oleh Tuhan. Ketika kita mengalami penganiayaan, Tuhan ingin menghibur kita supaya jangan bersedih dan putus asa. Tetapi hendaklah kita menerima penganiayaan ini dengan ketabahan, dengan hati yg terbuka dan mengerti sebab apa yg kita alami oleh karena mempertahankan injil juga dialami oleh para nabi. Dengan mempertahankan kebenaran, kita rela menderita aniaya karena kita menerima upah yg besar di surga. Upah di sini bukan berarti upah seperti yg dibayar oleh majikan kepada pegawainya. Tetapi upah yg dimaksud ialah suatu anugrah, suatu kepuasaan, suatu kapasitas yg lebih besar untuk menikmati dan melayani Allah. Upah ini adalah suatu karunia perkenan Allah yg diberikan kepada mereka yg telah hidup dari anugrahNYA sampai kepada akhirnya (Mat 5:6)

Penganiayaan yg kita terima karena iman kita kepada Kristus, karena mempertahankan kebenaran merupakan bukti bahwa kita adalah murid-murid Yesus yg sejati, merupakan tanda keaslian, bukti jati diri kekristenan kita seperti yg dibuktikan oleh para nabi-nabi sebelum kita yg dianiaya karena mempertahankan iman mereka!

Mat 5:10-12 merupakan penutup atau klimaks dari 8 ucapan berbahagia yg diajarkan oleh Yesus. Ketika kita memperhatikan ayat 3-10, Tuhan selalu menggunakan kata ganti orang ketiga (mereka) ketika Ia mengajar sesuai dengan aturan orang-orang Ibrani (Mazmur 1:1-2; 32:1-2; 119:1-3). Tetapi di dalam ayat 11-12, Yesus merubah dengan menggunakan kata ganti orang kedua (kamu) sebagai suatu sapaan dan perkataan yg langsung dari Yesus sebagai Mesias, Juru Selamat yg ditujukan kepada semua orang yg mendengarnya. Apa yg diajarkan oleh Yesus bukanlah merupakan suatu peraturan, tetapi merupakan perintah, suatu hal yg serius. Karena setiap orang Kristen bukan hanya harus miskin di hadapan Allah, harus lemah lembut, haus akan kebenaran, suci hatinya, pembawa damai, tetapi juga harus siap sedia menghadapi tantangan terhadap iman kristen mereka. Kemurnian iman dan kesetiaan seseorang diuji ketika ia menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hidup yg menyebabkan ia harus memilih, tetap ikut Yesus atau mengikut dunia.

Ketika menghadapi ujian terhadap iman kita hendaklah kita mengingat 1 Kor 10-13 yg mengatakan; "Tuhan tidak akan mengijinkan kita menghadapi percobaan yg melebihi kemampuan kita". 1 Pet 1:6-9 juga mengatakan bahwa percobaan itu perlu untuk memurnikan iman kita supaya kita bertumbuh semakin dewasa.

Saturday, April 5, 2008

Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9)

Apakah arti damai bagi kita?

Kata damai dalam bahasa Yunaninya adalah eirene atau shalom dalam bahasa Ibraninya. Dalam bahasa aslinya, kata damai mengandung makna kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, dll. Selain itu dengan mengatakan damai berarti tidak ada persoalan/kesulitan/keributan. Damai adalah segala sesuatu yg membuat dan membawa kebaikan bagi manusia. Damai adalah kenikmatan atas segala kebaikan. Kata damai dalam bahasa Arabnya adalah salam yg mirip dengan shalom yaitu dengan mengatakan salam, kita sebenarnya ingin mengatakan di sini tidak ada hal-hal jahat/menyusahkan, yg ada adalah kebaikan bagi sesama.

Berdasarkan arti kata damai di atas, kita dapat menterjemahkan arti membawa damai sebagai berbuat sesuatu sehingga orang lain dapat menikmati kebaikan. Membawa damai berarti membawa/berbuat kebaikan bagi sesama. Tetapi membawa damai bukan berarti sama dengan cinta damai. Mengapa? Karena orang yg mengaku cinta damai biasanya melakukan kesalahan dengan menghasilkan kesulitan/kesusahan bukan perdamaian. Misalnya: seringkali ketika seseorang ada masalah dengan sesamanya, ia memilih diam saja dengan alasan tidak mau ribut. Padahal dengan diam terus menerus, ia tidak menyelesaikan masalahnya, melainkan justru menetapkan kesulitan di masa mendatang, karena ia menolak untuk menghadapi situasi masa kini sehingga tidak melakukan tindakan-tindakan yg seharusnya diambil malah menghindarkan diri dari persoalan.

Membawa damai adalah melakukan suatu tindakan aktif untuk menuntaskan masalah-masalah yg sedang dihadapi supaya persoalannya selesai. Membawa damai berarti mengambil resiko untuk disalah mengerti, bahkan terkadang usahanya tidak dihargai dan tidak berhasil. Membawa damai adalah melakukan tindakan aktif dengan tidak mengorbankan pengajaran Firman Tuhan, tetapi dengan menerapkannya. Orang-orang yg membawa damai adalah orang-orang yg mau menghadapi, mengatasi dan menyelesaikan suatu persoalan secara tuntas sehingga kondisi damai tercipta.

Mengapa orang-orang yg membawa damai disebut anak-anak Allah? Karena mereka melakukan pekerjaan yg dilakukan oleh Allah sehingga tindakan mereka mencerminkan karakter Allah sang Raja Damai (Rm 15:33; 2 Kor 13:11; 1 Tes 5:23; Ibr 13:20)

Sekarang kita mulai mendapat pengertian dari Mat 5:9 ini. Beberapa pengertian tentang ayat ini dapat kita simak sbb:
1. Adalah penafsiran ayat ini secara spiritual
Seperti yg dilakukan oleh beberapa tokoh gereja mula-mula. Berdasarkan Rm 7:15-26 yg mengatakan bahwa di dalam diri setiap orang selalu ada pertentangan di dalam batinnya. Karena itu Mat 5:9 berdasarkan ayat ini dapat diartikan; "Berbahagialah orang yg membawa damai ke dalam hatinya sehingga tidak ada lagi pertentangan di dalam dirinya sendiri karena ia telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Berdasarkan logika kita, penafsiran ini dapat juga diterima karena damai yg sejati memang asalnya dari Tuhan. Kalau seseorang sudah didamaikan oleh Tuhan, pasti tidak ada pertentangan dalam batinnya karena ia telah menyerahkan dirinya kepada Tuhan, rela untuk hidup dipimpin oleh Tuhan.

Tetapi membawa damai adalah suatu perbuatan aktif, sesuatu yg menuntut tindakan sehingga orang lain dapat mengetahui dan merasakan akibat dari perbuatannya.

2. Berbahagialah orang-orang yg berbuat dan bertindak secara aktif untuk mengusahakan perdamaian sehingga orang-orang dapat merasakan dan menikmati apa yg dinamakan sebagai kebaikan. Di dalam kehidupan kita sehari-hari ada orang-orang yg hidupnya suka menjadi biang kerok, perusuh dan menyulitkan kehidupan orang lain. Di manapun mereka berada mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan setan. Tetapi di pihak lain ada anak-anak Tuhan yg perbuatannya, perkataannya mampu menghilangkan kesusahan orang lain, menjadi jembatan di antara pihak-pihak yg bertengkar, memulihkan hubungan yg rusak, memaniskan kepahitan hidup orang lain; dengan tanpa takut resiko untuk tidak dihargai/disalah mengerti tetapi bertujuan untuk membina hubungan yg benar di antara sesama, bahkan membimbing mereka untuk mendapatkan damai Allah, dengan membimbing mereka kepada Kristus. Orang-orang seperti inilah yg dikatakan sebagai anak-anak Allah, karena mereka melibatkan diri mereka dan mereflesikan karakter dan pekerjaan Allah sebagai Sang Raja Damai!